Pentingnya Keamanan Siber di Era Cashless Society


Illustration by Freepik Storyset

Pandemi yang sudah dihadapi sejak setahun terakhir ternyata tidak hanya berdampak pada dunia medis, namun juga memiliki efek domino ke berbagai aspek kehidupan, termasuk di ranah perbankan. Dilansir dari Government Technology, sejak terjadinya pandemi, intensitas transaksi menggunakan mesin ATM berkurang drastis hingga 25%, sedangkan transaksi melalui media transfer elektronik meningkat tajam dari yang sebelumnya 10% menjadi 78%. Padahal transaksi elektronik seperti mobile banking, internet banking, e-wallet, dan sejenisnya sangat berkaitan dengan infrastruktur internet yang artinya keamanan transaksi yang ada pun menjadi hal yang sangat vital dalam dunia perbankan saat ini.

Hal ini menjadi vital karena dengan banyaknya transaksi yang terjadi melalui internet, artinya tindak-tindak kejahatan seperti bank heist di era digital seperti ini tidak perlu lagi dilakukan seperti di film-film. Namun, dapat dilakukan siapa saja yang memiliki kemampuan untuk menemukan celah dan meretasnya. Salah satu kasus bank heist terbesar yang terjadi dalam dekade ini, “The Bangladesh Bank Heist”, bisa menjadi contoh nyata bahwa celah yang dapat ditemukan dalam sistem transaksi elektronik bisa menyebabkan kerugian hingga hampir mencapai 1 miliar dollar seperti yang dikutip dari The New York Times Magazine.

Oleh karena hal tersebut, entitas-entitas perbankan saat ini perlu untuk lebih memperhatikan hal-hal yang berkaitan layanan kepada nasabah-nasabahnya serta pengelolaan aset-aset yang dimiliki yang berkaitan dengan internet, baik dari sisi manajemen, infrastruktur, sumber daya manusia, dan lain sebagainya. Aspek yang lebih dikenal sebagai keamanan siber ini sendiri memiliki beberapa risiko apabila tidak diperhatikan dengan baik seperti ancaman terjadinya kebocoran data nasabah yang dapat berdampak besar kepada reputasi dari institusi perbankan itu sendiri, kerugian finansial bagi para nasabah, termasuk kemungkinan dijatuhkannya hukuman kepada pihak perbankan apabila didapati tidak dapat bertanggungjawab untuk memastikan keamanan data dan aset dari nasabah-nasabahnya.

Dengan demikian, untuk menjamin kualitas keamanan siber dari suatu institusi perbankan, maka terdapat beberapa hal yang harus dilakukan sebagai berikut:

1. Melakukan audit keamanan secara menyeluruh baik itu dari segi perangkat keras yang digunakan, perangkat lunak yang digunakan, manusia-manusia yang terlibat, serta segala kebijakan, dan proses bisnis yang ada.

2. Melakukan edukasi kepada pegawai dari suatu institusi perbankan untuk meningkatkan kesadaran mereka akan pentingnya menjamin keamanan siber dari institusi perbankan.

3. Melakukan uji keamanan dan penilaian keamanan secara berkala yang diikuti dengan tindak lanjut dari hasil pengujian dan penilaian sehingga memastikan bahwa segala kerawanan yang ditemukan dari sistem keamanan dapat dimitigasi.

4. Melakukan pembaharuan dari sistem keamanan baik dari perangkat keras maupun perangkat lunak yang digunakan agar kerawanan-kerawanan yang mungkin ada pada sistem sebelumnya dapat dihindari.

Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap berbagai hal dalam keamanan siber, Bank Sinarmas sebagai salah satu penyedia layanan perbankan di Indonesia turut mendukung sepenuhnya penyelenggaraan kompetisi dan seminar di bidang keamanan informasi oleh Poltek SSN. Wreck It 2.0 yang merupakan sebuah kompetisi di bidang keamanan siber yang mengangkat tema “Exploiting the Cyber, Catching the Vulnerabilities, Securing the State”. Selain itu, terkait keamanan fasilitas yang ditawarkan Bank Sinarmas, telah dibuat berbagai fasilitas yang memenuhi standar keamanan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, yaitu penggunaan protocol SSL, penggunaan username, password, SMS OTP, serta passcode sehingga dapat menjamin keamanan data nasabah.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *